Oleh: hernandhyhidayat | April 14, 2010

DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

  1. Abiotik : Unsur non-hayati lingkungan; tidak menyangkut kehidupan atau organisme hidup.
  2. Air payau : suatu campuran air tawar dan air laut; air payau dapat didefinisikan sebagai mengandung bahan padat terlarut antara 5 – 30 permil (ppt).
  3. Akresi : proses penumpukan pasir di daerah pantai akibat dari gerakan dan gelombang yang membawa pasir ke daerah tersebut.
  4. Alga atau ganggang : tanaman berklorofil berukuran dari beberapa mikron sampai bermeter-meter, yang hidupnya tergantung pada gerakan air dan hidup di dalam air tawar dan air laut (Usna, 1997).
  5. Aliran energi : perpindahan energi melalui tingkat-tingkat trofik atau rantai makanan, dimulai dengan yang terserap oleh makhluk autotrof kemudian direduksi oleh pernafasan dan seterusnya.
  6. Akuakultur : pengelolaan tanaman atau hewan yang hidup dalam air,  misalnya budidaya ikan, budidaya udang.
  7. Archipelago : suatu kelompok pulau-pulau, termasuk bagian dari pulau-pulau itu, perairan yang menghubungkan dan bentuk-bentuk alami lainnya yang begitu dekat kaitannya sehingga pulau-pulau itu, perairan dan bentukbentuk alami lainnya membentuk satu kesatuan geografis, ekonomis dan politik yang hakiki, atau yang secara historis telah dianggap demikian.
  8. Backshore : daerah akresi atau erosi, terletak ke arah darat dari garis air pasang normal, yang biasanya menjadi basah hanya pada waktu air pasang tinggi.
  9. Bagan : alat tangkap yang menetap (bagan tancap) atau berpindah (bagan apung), dipasang pada malam hari menggunakan jaring dan lampu (petromak) sebagai alat penarik ikan supaya berkumpul di bawah lampu.

10.  Bakau : jenis genus pohon yang mampu hidup dan tumbuh di air payau atau tanah payau; sering termasuk komunitas biologis yang subur yang didukung oleh hutan bakau atau beberapa jalur bakau.

11.  Benthik : berada atau kehidupan di atas atau di dasar laut; berada pada atau menempel di dasar laut (kebalikan dari pelagis).

12.  Biom : suatu komunitas ekologi utama atau formasi makhluk yang menghuni wilayah luas, misalnya hutan hujan tropis, tundra atau gurun.

13.  Biotik : berkaitan dengan hidup atau makhluk hidup.

14.  Bio accumulation : pengambilan bahan seperti logam berat atau hidrokarbon berklorin  yang akan meningkatkan konsentrasi bahan-bahan tersebut dalam organisme laut.

15.  Biodiversity : berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalam suatu habitat tertentu; juga dukungan sosial untuk melindungi jenis-jenis biota dan mencegah dari kepunahan.

16.  Bulk head : dinding yang dibangun sejajar dan dekat batas air pasang untuk melindungi lahan di sebelahnya terhadap pukulan gelombang dan arus.

17.  Citra satelit : citra penginderaan jauh dikumpulkan oleh satelit yang mengelilingi bumi termasuk Landsat, dan SPOT. Citra ini mempunyai panjang gelombang tertentu (tampak mata biasa, inframerah, dsb), yang dapat digabungkan untuk maksud interpretasi. Citra ini tampak seperti photo tetapi tidak dapat di buat dengan metode photografi, karenanya digunakan istilah image (bayangan) atau imagery (citra). Data dari citra satelit dapat diinterpretasikan secara visual atau dianalisis dengan komputer dalam bentuk digital (angka). Dapat pula langsung dimasukkan dalam system informasi gepgrafis.

18.  Coastal baseline : suatu garis diciptakan, secara geografis untuk menentukan jarak ke batas laut wilayah suatu negara.

19.  Daerah asuhan : setiap tempat di zone pantai dimana kehidupan akuatatik stadia larva, yuwana atau stadia muda berkumpul untuk mencari makan atau berlindung.

20.  Dataran Pasang Surut (tidal flat): daerah pasang surut yang tidak ditutupi vegetasi (biasanya berlumpur atau berpasir); daerah darat yang tergenang air surut dan aliran pasang surut; daerah yang terletak diantara air pasang tertinggi dan air susut terendah (lihat;”intertidal zone”).

21.  Daur biogeokimia : perputaran unsur-unsur kimia di alam melalui bagian biotik dan abiotik biosfer.

22.  Demersal : ikan yang hidup dan mencari makanan dekat atau di dasar perairan.

23.  Detritus : partikel terapung yang dihasilkan dari erosi/pembusukan bahan-bahan yang besar; umumnya mengacu pada bahan organik yang melayang dalam air atau tenggelam di dasar laut, seperti butir-butir sisa tumbuh-tumbuhan (misalnya dari rumput semak atau daun bakau) yang mengalami berbagai tingkat pembusukan.

24.  Ekologi : ilmu cabang biologi yang mempelajari keterkaitan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

25.  Ekosistem : suatu komunitas tumbuh-tumbuhan, bahan dan organisme lainnya serta proses yang menghubungkan mereka; suatu sistem fungsi dan interaksi yang terdiri dari organisme hidup dan lingkungannya. Konsep ini dapat diterapkan pada skala apapun, dari planet sebagai suatu ekosistem sampai ke koloni mikroba yang mikroskopis dengan sekitarnya, system ekologi lengkap yang berlangsung di suatu unit geografi tertentu, termasuk komunitas biologis dan lingkungan fisik, berfungsi sebagai unit ekologis di alam.

26.  Ekstentifikasi : suatu peningkatan produksi (misalnya udang) dalam sistem budidaya perairan atau pertanian yang di hasilkan melalui perluasan sarana; misalnya penambahan areal kolam baru pada sarana budidaya udang .

27.  Endemik : suatu spesies yang secara greografis penyebaran terbatas pada atau unik di tempat atau habitat tertentu.

28.  Erosi tanah : pemindahan tanah oleh angin, air, atau tanah longsor dengan kecepatan yang lebih tinggi dari proses pembentukan tanah untuk menggantinya. Erosi tanah adalah akibat kegiatan manusia seperti pembersihan vegetasi dan penanaman pada lahan yang miring tanpa langkah konservasi tanah.

29.  Estuari : daerah litoral yang agak tertutup (teluk) di pantai, tempat sungai bermuara dan air tawar dari sungai bercampur dengan air asin dari laut, biasanya berkaitan dengan pertemuan sungai dengan pantai.

30.  Eutrofikasi : proses penyuburan perairan yang mengarah kepada pertumbuhan alga dan tumbuh-tumbuhan air lainya karena masuknya pasokan yang berlebihan dari zat hara seperti nitrat dan fosfat.

31.  Exotic species : jenis biota asing, bukan jenis asli yang hanya terdapat di suatu daerah geografis.

32.  Foreshore : bagian pantai yang tekena pasang surut atau bagian depan pantai yang terletak antara bagian pantai atas (atau batas teratas yang terkena air pasang tinggi) dan batas air surut biasa yang biasanya terkena gelombang naik dan gelombang turun ketika air pasang dan air surut.

33.  Habitat : struktur lingkungan tempat hidup tumbuh-tumbuhan atau hewan, biasanya menurut tipe bentuk kehidupan utama (misalnya bakau, lamun, dsb).

34.  Hidrologi : ilmu pengetahuan mengenai sifat-sifat penyebaran dan sirkulasi air di atas bumi.

35.  High water : ketinggian maksimal yang dicapai oleh air pasang tinggi; mean high water ialah ketinggian rata-rata air pasang.

36.  Individu : bagian populasi yang hidup mandiri, secara fisiologis bersifat bebas dan tidak memiliki hubungan organic dengan sesamanya.

37.  Intensifikasi : peningkatan produksi dalam suatu sistem budidaya perairan atau pertanian, melalui peningkatan padat penebaran (dan produksi yang di harapkan) pada suatu perairan atau lahan basah yang ada.

38.  Intrusi : arti harfiahnya adalah masuk secara paksa, istilah ini sering digunakan tentang proses masuknya air laut kedaratan sehingga air tanah yang berada jauh dari laut terasa payau atau asin.

39.  Jalur hijau : suatu jalur vegetasi sepanjang perbatasan zona peralihan, yang memisahkan suatu tipe daerah sumber daya dari lainnya.

40.  Jaring makanan : jalinan rantai makanan yang saling berhubungan dan menunjukkan daur makanan suatu komunitas.

41.  Karang Buatan : setiap habitat laut yang di bangun untuk maksud memikat jenis-jenis organisnme laut atau meningkatkan sumber daya laut untuk memperbaiki perikanan, biasanya terbuat dari timbunan bahan-bahan seperti bekas ban mobil, pecahan-pecahan semen, bangkai kerangka kapal, badan mobil, dsb.

42.  Klimaks : tahap stabil dalam suatu urutan suksesi atau komunitas ketika jenis dominanannya sudah sepenuhnya beradaptasi terhadap keadaan lingkungan.

43.  Komunitas : suatu kelompok yang terjadi secara alami dan terdiri atas berbagai jenis makhluk yang menempati suatu lingkungan bersama-sama dan saling berinteraksi terutama dengan jalan bertukar makanan.

44.  Kortur : suatu garis yang menghubungkan titik-titik yang bernilai sama. Biasanya berdasarkan suatu datum horizontal, misalnya kedalaman laut rata-rata.

45.  Laguna : suatu daerah litoral agak tertutup dengan masukan air tawar yang terbatas, salinitas tinggi dan sirkulasi terbatas; laguna terdapat di belakang bukit pasir, pulau penghalang dan bentuk bentuk penghalang lainnya.

46.  Lahan basah (Wetland) : daerah yang sering terkena banjir atau tertutup air misalnya semak air payau, rawa bakau atau lahan dengan semak-semak tawar.

47.  Lamun : sejenis ilalang laut yang hidup di dasar laut yang berpasir yang tidak begitu dalam dimana sinar matahari masih dapat menembus ke dasar hingga memungkinkan ilalang tersebut berfotosintesa.

48.  Landsat : sebuah satelit NASA (Nasional Aeronautical and Space Administration) yang mengelilingi bumi tanpa awak, yang mengirimkan citra multispektrum (kisaran 0,4 – 1,1 um) dari spektrum elektromagnet ke stasiun penerima di bumi data digital dan/atau citra yang dihasilkan digunakan untuk identifikasi ciri-ciri bumi dan sumberdaya. Data dikumpulkan terpisah untuk panjang gelombang yang tampak dan yang tidak tampak, yang dapat digabungkan untuk interpretasi. Pada kondisi menguntungkan, resolusi tanah dapat mencapai 30 m.

49.  Larva : suatu tahapan dari jalur hidup ikan dan hewan air lainya setelah menetas dari telur menjadi larva yang bentuk sangat berbeda dengan bentuk dewasa dan pada umumnya bergerak pasif mengikuti gerakan air.

50.  Littoral drift : perpindahan pasir dan bahan lain oleh arus litoral (pantai panjang) dengan arah sejajar pantai di sepanjang pantai; biasanya oleh angin.

51.  Migrasi : perpindahan, biasanya dipakai untuk hewan yang pindah dari satu tempat ke tempat lain, misalnya burung, ikan,dsb.

52.  Nutrien : setiap bahan yang diasimilasi oleh organisme hidup untuk pertahanan tubuh atau meningkatkan pertumbuhan.

53.  Oksidasi : dalam pengolahan limbah, oksidasi adalah mengkonsumsi atau menghancurkan limbah organic atau limbah kimia menggunakan mikroba atau oksidan kimia.

54.  Organik : partikel organik kecil yang melayang sebagai detritus biasanya berasal dari vegetatif.

55.  Pelagik : mampu hidup di segala tempat mulai dari permukaan sampai dasar di kolam air laut tidak terbatas pada hidup di dasar.

56.  Pengideraan jauh : dalam perencanaan penggunaan sumberdaya, penginderaan jauh berarti pengumpulan informasi dengan menggunakan foto udara dan citra satelit (lihat “LANDSAT” di atas). Penginderaan jauh harus dilakukan bersama dengan survey lapang.

57.  Pestisida : setiap bahan kimia yang di gunakan untuk membasmi hama tumbuhtumbuhan dan hewan (dan serangga); beberapa insektisida mencemari air, udara atau tanah dan terakumulasi dalam tubuh manusia, tumbuhtumbuhan, hewan dan lingkungan serta menimbulkan pengaruh negatif.

58.  Polikultur : dalam sistem pertanian yaitu gabungan dari sejumlah sistem budidaya yang operational dilakukan secara bersamaan misalnya tambak dan padi.

59.  Pollutan : suatu bahan pencemar yang dalam konsentrasi atau jumlah tetentu menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik, kimia dan biologis lingkungan yang tidak menguntungkan termasuk, patogen, logam berat karsinogen, bahan-bahan yang memerlukan oksigen dan bahan-bahan berbahaya lainya,  termasuk tanah yang dikeruk, limbah padat, residu dari alat pembakaran, limbah perkotaan, sampah, amunisi, limbah kimia, bahan biologis, limbah industri, limbah kota, limbah pertanian yang masuk kedalam perairan pantai.

60.  Pulp : bubur kayu untuk pembuatan kertas.

61.  Rantai makanan : urutan pada tingkat/aras trofik bertahap dalam komunitas yang menunjukan terjadinya pemindahan energi melalui proses makan dan dimakan, dari produsen ke herbivor kemudian ke karnivor (konsumen sekunder dan tersier) serta ke pengurai.

62.  Rehabilitasi : tindakan yang disengaja untuk menciptakan kembali atau merubah struktur lingkungan habitat sehingga mengganti kerusakan yang terjadi pada masa lampau.

63.  Relung/nichia/niche : kedudukan, peran, fungsi, suatu jenis makhluk hidup dalam ekosistem komunitasnya.

64.  Restorasi : rehabilitasi suatu sumberdaya lingkungan untuk memulihkan strutur dan proses ekologi.

65.  Run off : bagian dari pencairan, salju meleleh, atau air irigasi yang mengalir dari darat kesungai-sungai atau badan air lainya, termasuk perairan pantai yang menampungnya.

66.  Salinitas : kadar garam yang umumnya dinyatakan dalam per mil atau perseribu atau ppt (part per thousand).

67.  Sea level rise : meningakatnya elevasi permukaan air laut akibat fenomena pemanasan global, karena penyebaran panas air laut dan mencairnya puncak es

68.  Sea Wall : suatu struktur yang dibangun di sepanjang pantai untuk melindungi pantai dan kerusakan lain dari pukulan ombak. Umumnya lebih padat dan mampu bertahan terhadap kekuatan ombak besar dibandingkan dengan sebuah bulk head.

69.  Silvo Fishery : kegiatan perikanan dan kehutanan yang dilakukan secara bersamaan.

70.  Sistem Informasi Geografik (SIG): suatu kumpulan perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan tenaga kerja yang teratur yang dirancang secara efesien untuk menangkap, menyimpan, memutakhirkan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan seluruh bentuk informasi yang mengacu pada geografi. Operasi spasi tertentu yang komplek dimungkinkan dalam SIG, yang akan sangat sulit, memakan waktu dan tidak praktis tanpa SIG. Data biasanya berasal dari peta dan nilai yang diperoleh dapat dicetak sebagai peta.

71.  Species indicator : satu atau beberapa jenis biota dipilih untuk mewakili kondisi lingkungan tempat jenis-jenis biota itu hidup.

72.  Stakeholder : seseorang (atau entitas) yang mempunyai suatu kepentingan dalam keputusan yang mempengaruhi penggunaan dan konservasi sumberdaya pantai. Tidak terbatas pada mereka yang memiliki kepentingan finansial.

73.  Suksesi : urutan-urutan pergantian peristiwa ekologi yang memperlihatkan perubahan dalam susunan suatu masyarakat kehidupan (umumnya tumbuh-tumbuhan) menuju suatu klimaks yang berlangsung secara sedikit demi sedikit , teratur, dan dapat diduga sebelumnya.

74.  Suksesi primer : suksesi ekologi berawal pada habitat atau substrat yang sebelumnya belum pernah dihuni dan belum mengalami perubahan secara fisik oleh makhluk.

75.  Suksesi sekunder : suksesi tumbuhan yang terjadi setelah adanya gangguan pada suksesi primer atau normal, misalnya sebagai akibat kegiatan manusia pada habitat atau kerusakan pada komunitas sebelumnya.

76.  Sumberdaya alam : sumberdaya lahan dan laut yang relevan dengan potensi penggunaannya, misalnya iklim, air, tanah, lepas pantai, dekat pantai, hutan.

77.  Suspended solids : partikel yang melayang dalam air karena daya gerak hidraulik seperti arus naik atau turbulensi dan suspensi koloid termasuk misalnya endapan atau detritus organik.

78.  Tata Guna Lahan : pengelolaan lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini meliputi penggunaan lahan di pedesaan, perkotaan, dan penggunaan oleh industri.

79.  Terumbu karang : Karang adalah jenis hewan laut berukuran kecil yang disebut polip, hidupnya menempel pada substrat seperti batu atau dasar yang keras dan berkelompok membentuk suatu koloni. Hewan ini menghasilkan deposit yang berupa kalsium karbonat (CaCO3) yang terakumulasi menjadi terumbu dan bila hewan yang berada di terumbu itu mati, maka terumbu karang tersebut tidak berkembang sehingga menjadi batu karang atau karang mati. Hewan karang hidup dari hewan renik lainnya dan tanaman renik (plankton nabati dan hewan) yang terdapat di sekitarnya.

80.  Tsunami : gelombang laut yang cepat di perairan dangkal, yang berpotensi menimbulkan bencana, disebabkan oleh gempa bumi atau gunung berapi bawah air, gelombang ini dapat muncul sangat tinggi dan menimbulkan bencana membanjiri lahan di pantai.

81.  Turbiditas (kekeruhan) : berkurangnya kejernihan air karena adanya benda-benda yang melayang; juga merupakan suatu ukuran mengenai banyaknya bahan tersuspensi dalam air.

82.  Upland : daerah hulu, ke arah darat dari garis pantai yang hanya sedikit berinteraksi dengan laut.

83.  Zona Ekonomi Eksklusif : zona maritim yang berdekatan dengan atau yang membentang 200 mil laut dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur wilayah laut – kewenangan diberikan secara internasional oleh Konperensi PBB III tentang Hukum Laut, negara pantai mempunyai hak berdaulat untuk eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumberdaya alam di zona tersebut.

84.  Zona pesisir (definisi resmi Amerika): perairan pantai (termasuk lahan di dalam dan di bawahnya) dan lahan pantai di dekatnya (termasuk perairan di dalam dan di bawahnya), yang saling mempengaruhi dan letaknya berdekatan dengan garis pantai beberapa propinsi (negara bagian) pantai termasuk pulau-pulau, daerah transisi dan pasang surut, semak-semak payau, lahan basah dan pantai.

85.  Zona Intent : ini memberikan peranan umum dari suatu daerah dan menunjukkan prioritas pada penggunaan yang diizinkan, apabila hal ini dapat dilaksanakan.

86.  Zona pasang surut : zona transisi antara laut dan darat, sering didefinisikan sebagai zona yang terletak antara batas air pasang tinggi rata-rata dan batas air surut rata-rata.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: