Oleh: hernandhyhidayat | Juni 2, 2010


KELOMPOK :
Enjang Hernandi H 230210080068
Jimy Kalther 230210080049
Reza M. Azhar 230210080007
Alfian Nurrachman 230210080071
Andy Catur 2302100700
Gusti Septiandina 230210080002

SEJARAH BUDIDAYA LAUT
Awal budidaya laut atau marikultur di Indonesia ditandai dengan adanya keberhasilan budidaya mutiara oleh perusahaan Jepang pada tahun 1928 di Buton- Sulawesi Tenggara. Selanjutnya, awal tahun 1970-an dilakukan percobaan dan pengembangan budidaya rumput laut (Euchema sp.) di Pulau Samaringa-Sulawesi Tengah, dengan adanya kerjasama antara Lembaga Penelitian Perikanan Laut dan perusaan Denmark. Sementara itu, awal tahun 1980-an banyak pengusaha ekspor ikan kerapu hidup di Kepulauan Riau membuat karamba jaring tancap serta karamba jaring apung sebagai tempat penampungan ikan kerapu hidup hasil tangkapan sebelum di ekspor ke Singapura dan Hongkong. Adapun perkembangan budidaya laut khususnya dalam karamba jaring apung (KJA) dipicu oleh keberhasilan pembenihan ikan bandeng dan ikan kerapu di hatchery secara massal pada tahun 1990-an di Loka Penelitian Budidaya Pantai di Gondol Bali.
Mengapa?
Banyak sekali tujuan yang menjadi target pencapaian dalam pelaksanaan budidaya laut, diantaranya adalah:
1. Efektif dan efisien
2. Menghasilkan komoditas yang lebih baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Dengan adanya metode budidaya yang sesuai terhadap suatu jenis komoditas laut, diharapkan bisa merubah komoditas tersebut baik dari segi kualitas maupun kuantitas jika dibandingkan dengan komoditas lain yang sama yang hidup bebas di alam
3. Potensi
4. Memberdayakan masyarakat
5. Menjaga kelestarian ekosistem di alam

PRINSIP DASAR BUDIDAYA LAUT
Kegiatan budidaya laut pada dasarnya sama dengan budidaya perikanan darat. Budidaya laut merupakan kegiatan yang baru di dunia perikanan. Beberapa alasan budidaya laut bisa berkembang, diantaranya sumber day aikan yang ditangkap sudah menurun sehingga nelayan beralih ke budidaya, budidaya perikanan di darat banyak menglami hambatan dan harga atau nilai jual komoditas budidaya laut relatif lebih tinggi dibanding dengan budidaya air tawar.

A. Pemilihan Jenis Komoditas
Ada bebereapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam penentuan pilihan b iota laut yang akan dibudidayakan, diantaranya aspek permintaan pasar, pasok benih, sediaan teknologi budidaya, sediaan lahan, dan kemungkinan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan. Pertimbangan untuk memilih komodit as laut yang akan dibudidayakan :
1. Sebaikknya mengembangkan spesies asli/ lokal daripada introduksi atau impor.
2. Memilih spesies yang sesuai dengan permintaan pasar.
3. Diversifikasi spesies budidaya diprioritaskan pada ikan pemakan plankton dan ikan herbivora. Jumlahnya lebih banyak daripada ikan karnivora.
4. Jenis ikan pelagis lebih mudah dibudidayakan dilihat dari penerapan teknologinya dibandingkan dengan ikan demersal.
5. Ikan yang tidak hanya bisa bernafas dengan insang atau ikan yang mempunyai labirin lebih mudah pemeliharaan dan tidak memerlukan mutu air yang baik.
6. Ikan yang teknologi pembenihannya sudah maju sehingga pasokan benih baik jumlah dan kualitasnya tersedia setiap saat.
7. Seluruh siklus hidup ikan budidaya harus dapat dikontrol dan teknologinya sudah dikuasai.

Banyak jenis biota laut yang sudah biasa dibudidayakan, seperti jenis ikan, krustasea, moluska, echinodermata, dan rumput laut. Ikan yang sudah biasa dibudidayakan adalah :
1. Kerapu bebek
2. Kerapu macan
3. Kerapu lumpur
4. Kakap merah
5. Baronang
6. Nila merah
7. Bandeng
8. Cobia
9. Kerapu sunu
10. Dan lain-lain
Jenis udang yang biasa dibudidayakan antara lain :
1. Udang windu
2. Udang barong
Sedangkan jenis-jenis moluska yang senantiasa dibudidayakan antara lain :
1. Tiram daging
2. Tiram mutiara
3. Kerang hijau
4. Kerang darah
5. Kerang abalon
6. Tiram mabe
7. Dan lain-lain

B. Pemilihan Lokasi
Sebagai langkah awal budidaya laut adalah pemilihan lokasi budidaya yang tepat. Oleh karena itu, pemilihan dan penentuan lokasi budidaya harus didasarkan pertimbangan ekologis, teknis, higienis, sosio-ekonomis, dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemilihan lokasi sebaiknya dilakukan dengan mempertimbangkan gabungan beberapa faktor yang dikaji secara menyeluruh.
1. Persyaratan teknis
Sesuai dengan sifatnya yang sangat dipengaruhi oleh kondisi perairan, lingkungan bagi kegiatan budidaya laut dalam keramba jaring apung sangat menentukan keberhasilan usaha. Pemilihan lokasi yang baik harus memperhatikan aspek fisika, biologi, dan kimia perairan yang cocok untuk biota laut. Selain itu, pemilihan lokasi perlu juga mempertimbangkan aspek efisiensi biaya operasional budidaya.
2. Persyaratan sosial-ekonomi
Berikut beberapa aspek sosio ekonomi yang perlu mendapat perhatian dalam pemilihan dan penentuan lokasi.
a) Keterjangkauan lokasi. Lokasi budidaya yang dipilih sebaiknya adalah lokasi yang mudah dijangkau.
b) Tenaga kerja. Tenaga kerja sebaiknya dipilih yang memiliki tempat tinggal berdekatan dengan lokasi budidaya, terutama pemberdayaan masyarakat dan nelayan.
c) Sarana dan pra sarana. Lokasi budidaya sebaiknya berdekatan dengan sarana dan prasarana perhubungan ynag memadai untuk mempermudah pengangkutan bahan, benih, hasil dan lain-lain.
d) Kondisi masyarakat. Kondisi masyarakat yang lebih kondusif akan memungkinkan perkembangan usaha budidaya laut di daerah tersebut.
3. Persyaratan non-teknis
Persyaratan non-teknis yang harus dipenuhi dalam pemilihan lokasi adalah :
a) Keterlindungan. Lokasi budidaya harus terlindung dari bahaya fisik yang dapat merusaknya. Misalnya gelombang besar dan angin. Oleh karena itu, lokasi budidaya biasanya dipilih di tempat yang terlindung atau terhalang oleh pulau.
b) Keamanan lokasi. Masalah pencurian harus dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budidaya agar proses budidaya aman dan tidak terganggu.
c) Konflik kepentingan. Lokasi budidaya tidak boleh menimbulkan konflik kepentingan, misalnya, antara kegiatan perikanan dan nonperikanan (pariwisata).
d) Aspek peraturan dan perundang-undangan. Pemilihan lokasi harus sesuai dan tidak melanggar peraturan agar budidaya dapat berkelanjutan.

C. Teknis Budidaya
Berbeda dengan budidaya air tawar, komoditas budidaya laut cukup banyak. Selain itu, metode atau teknologi budidaya laut lebih beragam, mulai dari pemanfaatan lahan dasar, penggunaan jaring atau rak tancap ( pen Culture ), Keramba Jaring apung.
a) Jaring Tancap
Jaring tancap ( pen Culture ) biasanya dipasang di bawah ( kolong ) rumah nelayan di pinggir pantai atau dipasang di tengah laut pada kedalaman 2-8 meter waktu surut terendah. Jaring tancap merupakan jaring kantong berbentuk persegi yang dipasang pada kerangka bambu atau kayu yang ditancap pada dasar perairan. Pasangan kayu / bambu ditancap rapat, seperti pagar, atau hanya dipasang di bagian sudut kantong jaring. Jaring sebagai lapisan dalam diikatkan pada kayu.
b) Keramba jaring apung
Keramba Jaring Apung ( KJA ) dapat dibuat dalam berbagai ukuran. Desain dan bahan tergantung pada kemudahan penanganan, daya tahan bahan baku,harga, dan faktor lainnya. Jaring atau wadah untuk pemeliharaan ikan di laut dibuat dari bahan polietilen. Bentuk dan ukuran bervariasi dan sangat dipengaruhi oleh jenis ikan yang dibudidayakan, ukuran ikan, kedalaman perairan, serta faktor kemudahan dalam pengelolaan.

BUDIDAYA RUMPUT LAUT
Rumput laut merupakan sumber utama penghasil agar-agar, alginat dan karaginan yang banyak dimanfaatkan dalam industri makanan, kosmetik, farmasi dan industri lainnya, seperti industri kertas, tekstil, fotografi, pasta dan pengelengan ikan.
Beberapa jenis rumput laut yang telah berhasil di budidayakan dan telah berkembang dengan baik di tingkat pembudidaya adalah Kappaphycus alvarezii dan euchema denticulatum yang di pelihara di perairan pantai (laut).

A. Pemilihan lokasi budidaya
Pertumbuhan rumput laut ditentukan oleh kondisi perairan sehingga kondisi rumput laut cenderung bervariasi dari lokasi budidaya yang berbeda.
Karakteristik ekologi suatu lokasi merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan usaha rumput laut. Parameter yang perku di oerhatikan adalah sebagai berikut:
1. Arus
Rumput laut merupakan tanaman yang memperoleh makanan (unsur hara) melalui aliran air yg melewatinya. Kecepatan arus yang baik untuk budidaya adalah 20-40 cm/detik.
2. Dasar Perairan
Dasar perairan berupa pecahan karang dan pasir karang merupakan kondisi dasar perairan yang sesuai dengan budidaya rumput laut.
3. Kedalaman
Kealaman perairan sangat tergantung dengan metode budidaya yang akan di pilih. Pemilihan kedalaman perairan yang tepat dilakukan untuk manghindari kekeringan dan mengoptimalkan pencapaian sinar matahari ke rumput laut.
4. Kadar Garam
Kadar garam yang sesuai untuk pertumbuhan rumput laut berkisar antara 28-35 g/Kg
5. Kecerahan
Lokasi budidaya rumput laut sebaiknya pada perairan yang jernih dengen tingkat kecerahan yang tinggi.
6. Ketersediaan bibit
Bibit rumput laut yang berkualitas sebaiknya tersedia di sekitar lokasi budidaya yang di pilih, baik yang bersumber dari alam maupun dari budidaya sendiri.
7. Orgaisme Pengganggu
Lokasi budidaya diusahakan pada lokasi yang tidak banyak terdapat organisme pengganggu, seperti ikan baronang, bintang laut, bulu babi, dan penyu.

B. Metode Budidaya
1. Metode Lepas Dasar
Metode ini dilakukan di atas dasar perairan yang berpasir atau pasir berlumpur dan tyerlindung dari hempasan gelombang yang besar. Hal ini penting untuk memudahkan pamasagan patok . biasanya lokasi dikelilingi oleh karang pemecah gelombang. Selain itu, sebaiknya memiliki kedalaman air sekitar 50cm pd surut terendah dan 3m pada saat pasang tertinggi.
2. Metode Rakit Apung
Merupakan budidaya rumput laut dengan cara mengikat rumput laut pada tali ris. Yang diikat pada rakit apung yang terbuat dari bambu. Satu unit rakit apung berukuran 2,5 m – 5 m. Tanaman harus selalu berada sekitar 30-50 cm dibawah permukaan air laut.
3. Metode Rawai
Metode ini dikenal dengan metode long line yang menggunakan tali panjang yang di bentangkan. Metode ini merupakan salah satu metode permukaan yang paling banyak di minati pembudidaya. Alat dan bahan yang digunakan dalam metode ini lebih tahan lama, relatif murah, dan mudah diperoleh.
4. Metode Jalur
Metode ini merupakan kombinasi antara metode rakit dengan rawai. Kerangka metode ini ternuat dari rakit (bambu) yang tersusun sejajar. Kedua ujung setiap bambu dihubungkan dengan tali utama berdiameter 6mm sehingga membentuk persegi panjang dengan ukuran 5m – 7m per petak dengan satu unit terdiri dari 7-10 petak.
Pada kedua ujung setiap unit di beri jangkar penanaman dimulai dengan mengikat bibit rumput laut ke tali jalur. Tali tersebut telah di lengkapi dengan tali polietilen berdiameter 0,2c sebagai pengikat bibit. Adapun jaraknya sekotar 25cm.

C. Pengolahan budidaya
1. Penyediaan bibit
Penyediaan bibit rumput laut diambil dari alam, budidaya, dan pembenihan. Budidaya rumput laut dapat mengambbil benih dari alam bila lokasi budidaya tersebut memiliki potensi bibit alam.
2. Penanganan bibit selama pengangkutan
Pengangkutan bibit selama pengangkutan dari tempat asal ke lokasi budidaya dilakukan sebagai berikut :
• Bibit harus dijaga agar tetap lembab
• Usahakan agar tidak terkena air tawar, hujan, embun, mminyak, dan kotoran lainnya karena akan merusak bibit.
• Bibit tidak boleh terkena sinar matahri
• Bibit diletakkan pada daerah yang jahu dari sumber panas, seperti mesin mobil atau perahu.
3. Penanaman bibit
Bibit yang akan ditanam dipilih yang berkualitas. Kepadatan penanaman bibit rumput laut tergantung dari jenis dan metode budidaya yang akan digunakan. Untuk budidaya Euchema sp. Bobot bibit yang digunakan sekitar 50-100 ggr per ikatan dengan jarak tidak kurang dari 25 cm.
4. Perawatan tanaman
Agar budidaya dapat dilakukan dengan baik dan berhasil maka harus dilakukan perawatan dan pemeliharaan. Perawatan bukan hanya pada tanaman itu sendiri tetapi juga pada alat-alat dan perangkat budidaya. Oleh karena itu, pengelola rumput laut sangat diperlukan untuk memperkecil kemungkinan kerusakan tanaman.
Kegiatan perawatan meliputi pembersihan lumpur, kotoran, dan biofouling yang menempel pada thallus rumput laut; penyisipan tanaman yang rusak atau lepas dari ikatan; penggantian patok, pelampung dan lain-lain.

D. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama tanaman pada budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut, terutama ikan baronang dan penyu yang memangsa tanaman. Secara alami, organisme tersebut hidup dengan rumput laut sebagai makanan utamanya. Hama tersebut dapat menimbulkan kerusakan fisik pada tanaman budidaya.
Penyakit ice-ice merupakan kendala utama budidaya rumput laut. Gejala ini dikenal juga dengan nama white spot. Rumput laut yang terserang penyakit itu antara lain pertumbuhan yang lambat, terjadinya perubahan warna thallus menjadi pucat atau warna tidak cerah, dan sebagian atau seluruh thallus pada beberapa cabang mengalami keputihan serta membusuk. Penyakit tersebut terutama disebabkan oleh perubahan lingkungan, seperti arus, suhu, dan kecerahan. Kecerahan air yang sangat tinggi dan rendahnya kelarutan unsur hara nitrat dalam perairan juga merupakan penyebab munculnya penyakit tersebut.

E. Panen
Waktu panen sangat ditentukan oleh waktu tanaman dalam mencapai tingkat kandungan bahan utama maksimal. Dengan demikian panen rumput laut sebaiknya dilakukan setelah mencapai pemeliharaan selama 45 hari. Namun, panen untuk rumput laut untuk bibit dilakukan pada saat umur tanaman berkisar 25-35 hari.
Panen dilakukan pada cuaca yang cerah agar kualitas rumput laut yang dihasilkan terjamin. Panen dapat dilakukan dengan dua cara yaitu ; panen selektif atau parsial dan secara keseluruhan. Panen secara selektif dilakukan dengan cara memotong tanaman secara langsung tanpa melepas ikatan dari tali ris. Keuntungan cara ini adalah penghematan tali rafia pengikat rumput laut, tetapi memerlukan waktu yang agak lama. Sementara itu panen kaseluruhan dilakukan dengan mengangkut seluruh tanaman sekaligus sehingga waktu kerja yang diperlukan lebih singkat.
Panen rumput laut secara keseluruhan pada metode lepas dasar, rakit apung, rawai, dan jalur dilakukan dengan cara berikut :
• Rumput laut dibersihkan dari kotoran atau tanaman lain yang melekat sebelum dipanen.
• Tali ris yang penuh dengan ikatan rumput laut dilepaskan dari bambu atau tali utama.
• Gulungan dari tali ris yang berisi ikatan rumput laut diletakan di sampan atau wadah transportasi lainnya.

Oleh: hernandhyhidayat | April 14, 2010

DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS


DAFTAR ISTILAH EKOLOGI LAUT TROPIS

  1. Abiotik : Unsur non-hayati lingkungan; tidak menyangkut kehidupan atau organisme hidup.
  2. Air payau : suatu campuran air tawar dan air laut; air payau dapat didefinisikan sebagai mengandung bahan padat terlarut antara 5 – 30 permil (ppt).
  3. Akresi : proses penumpukan pasir di daerah pantai akibat dari gerakan dan gelombang yang membawa pasir ke daerah tersebut.
  4. Alga atau ganggang : tanaman berklorofil berukuran dari beberapa mikron sampai bermeter-meter, yang hidupnya tergantung pada gerakan air dan hidup di dalam air tawar dan air laut (Usna, 1997).
  5. Aliran energi : perpindahan energi melalui tingkat-tingkat trofik atau rantai makanan, dimulai dengan yang terserap oleh makhluk autotrof kemudian direduksi oleh pernafasan dan seterusnya.
  6. Akuakultur : pengelolaan tanaman atau hewan yang hidup dalam air,  misalnya budidaya ikan, budidaya udang.
  7. Archipelago : suatu kelompok pulau-pulau, termasuk bagian dari pulau-pulau itu, perairan yang menghubungkan dan bentuk-bentuk alami lainnya yang begitu dekat kaitannya sehingga pulau-pulau itu, perairan dan bentukbentuk alami lainnya membentuk satu kesatuan geografis, ekonomis dan politik yang hakiki, atau yang secara historis telah dianggap demikian.
  8. Backshore : daerah akresi atau erosi, terletak ke arah darat dari garis air pasang normal, yang biasanya menjadi basah hanya pada waktu air pasang tinggi.
  9. Bagan : alat tangkap yang menetap (bagan tancap) atau berpindah (bagan apung), dipasang pada malam hari menggunakan jaring dan lampu (petromak) sebagai alat penarik ikan supaya berkumpul di bawah lampu.

10.  Bakau : jenis genus pohon yang mampu hidup dan tumbuh di air payau atau tanah payau; sering termasuk komunitas biologis yang subur yang didukung oleh hutan bakau atau beberapa jalur bakau.

11.  Benthik : berada atau kehidupan di atas atau di dasar laut; berada pada atau menempel di dasar laut (kebalikan dari pelagis).

12.  Biom : suatu komunitas ekologi utama atau formasi makhluk yang menghuni wilayah luas, misalnya hutan hujan tropis, tundra atau gurun.

13.  Biotik : berkaitan dengan hidup atau makhluk hidup.

14.  Bio accumulation : pengambilan bahan seperti logam berat atau hidrokarbon berklorin  yang akan meningkatkan konsentrasi bahan-bahan tersebut dalam organisme laut.

15.  Biodiversity : berbagai jenis hewan dan tumbuh-tumbuhan yang hidup dalam suatu habitat tertentu; juga dukungan sosial untuk melindungi jenis-jenis biota dan mencegah dari kepunahan.

16.  Bulk head : dinding yang dibangun sejajar dan dekat batas air pasang untuk melindungi lahan di sebelahnya terhadap pukulan gelombang dan arus.

17.  Citra satelit : citra penginderaan jauh dikumpulkan oleh satelit yang mengelilingi bumi termasuk Landsat, dan SPOT. Citra ini mempunyai panjang gelombang tertentu (tampak mata biasa, inframerah, dsb), yang dapat digabungkan untuk maksud interpretasi. Citra ini tampak seperti photo tetapi tidak dapat di buat dengan metode photografi, karenanya digunakan istilah image (bayangan) atau imagery (citra). Data dari citra satelit dapat diinterpretasikan secara visual atau dianalisis dengan komputer dalam bentuk digital (angka). Dapat pula langsung dimasukkan dalam system informasi gepgrafis.

18.  Coastal baseline : suatu garis diciptakan, secara geografis untuk menentukan jarak ke batas laut wilayah suatu negara.

19.  Daerah asuhan : setiap tempat di zone pantai dimana kehidupan akuatatik stadia larva, yuwana atau stadia muda berkumpul untuk mencari makan atau berlindung.

20.  Dataran Pasang Surut (tidal flat): daerah pasang surut yang tidak ditutupi vegetasi (biasanya berlumpur atau berpasir); daerah darat yang tergenang air surut dan aliran pasang surut; daerah yang terletak diantara air pasang tertinggi dan air susut terendah (lihat;”intertidal zone”).

21.  Daur biogeokimia : perputaran unsur-unsur kimia di alam melalui bagian biotik dan abiotik biosfer.

22.  Demersal : ikan yang hidup dan mencari makanan dekat atau di dasar perairan.

23.  Detritus : partikel terapung yang dihasilkan dari erosi/pembusukan bahan-bahan yang besar; umumnya mengacu pada bahan organik yang melayang dalam air atau tenggelam di dasar laut, seperti butir-butir sisa tumbuh-tumbuhan (misalnya dari rumput semak atau daun bakau) yang mengalami berbagai tingkat pembusukan.

24.  Ekologi : ilmu cabang biologi yang mempelajari keterkaitan antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

25.  Ekosistem : suatu komunitas tumbuh-tumbuhan, bahan dan organisme lainnya serta proses yang menghubungkan mereka; suatu sistem fungsi dan interaksi yang terdiri dari organisme hidup dan lingkungannya. Konsep ini dapat diterapkan pada skala apapun, dari planet sebagai suatu ekosistem sampai ke koloni mikroba yang mikroskopis dengan sekitarnya, system ekologi lengkap yang berlangsung di suatu unit geografi tertentu, termasuk komunitas biologis dan lingkungan fisik, berfungsi sebagai unit ekologis di alam.

26.  Ekstentifikasi : suatu peningkatan produksi (misalnya udang) dalam sistem budidaya perairan atau pertanian yang di hasilkan melalui perluasan sarana; misalnya penambahan areal kolam baru pada sarana budidaya udang .

27.  Endemik : suatu spesies yang secara greografis penyebaran terbatas pada atau unik di tempat atau habitat tertentu.

28.  Erosi tanah : pemindahan tanah oleh angin, air, atau tanah longsor dengan kecepatan yang lebih tinggi dari proses pembentukan tanah untuk menggantinya. Erosi tanah adalah akibat kegiatan manusia seperti pembersihan vegetasi dan penanaman pada lahan yang miring tanpa langkah konservasi tanah.

29.  Estuari : daerah litoral yang agak tertutup (teluk) di pantai, tempat sungai bermuara dan air tawar dari sungai bercampur dengan air asin dari laut, biasanya berkaitan dengan pertemuan sungai dengan pantai.

30.  Eutrofikasi : proses penyuburan perairan yang mengarah kepada pertumbuhan alga dan tumbuh-tumbuhan air lainya karena masuknya pasokan yang berlebihan dari zat hara seperti nitrat dan fosfat.

31.  Exotic species : jenis biota asing, bukan jenis asli yang hanya terdapat di suatu daerah geografis.

32.  Foreshore : bagian pantai yang tekena pasang surut atau bagian depan pantai yang terletak antara bagian pantai atas (atau batas teratas yang terkena air pasang tinggi) dan batas air surut biasa yang biasanya terkena gelombang naik dan gelombang turun ketika air pasang dan air surut.

33.  Habitat : struktur lingkungan tempat hidup tumbuh-tumbuhan atau hewan, biasanya menurut tipe bentuk kehidupan utama (misalnya bakau, lamun, dsb).

34.  Hidrologi : ilmu pengetahuan mengenai sifat-sifat penyebaran dan sirkulasi air di atas bumi.

35.  High water : ketinggian maksimal yang dicapai oleh air pasang tinggi; mean high water ialah ketinggian rata-rata air pasang.

36.  Individu : bagian populasi yang hidup mandiri, secara fisiologis bersifat bebas dan tidak memiliki hubungan organic dengan sesamanya.

37.  Intensifikasi : peningkatan produksi dalam suatu sistem budidaya perairan atau pertanian, melalui peningkatan padat penebaran (dan produksi yang di harapkan) pada suatu perairan atau lahan basah yang ada.

38.  Intrusi : arti harfiahnya adalah masuk secara paksa, istilah ini sering digunakan tentang proses masuknya air laut kedaratan sehingga air tanah yang berada jauh dari laut terasa payau atau asin.

39.  Jalur hijau : suatu jalur vegetasi sepanjang perbatasan zona peralihan, yang memisahkan suatu tipe daerah sumber daya dari lainnya.

40.  Jaring makanan : jalinan rantai makanan yang saling berhubungan dan menunjukkan daur makanan suatu komunitas.

41.  Karang Buatan : setiap habitat laut yang di bangun untuk maksud memikat jenis-jenis organisnme laut atau meningkatkan sumber daya laut untuk memperbaiki perikanan, biasanya terbuat dari timbunan bahan-bahan seperti bekas ban mobil, pecahan-pecahan semen, bangkai kerangka kapal, badan mobil, dsb.

42.  Klimaks : tahap stabil dalam suatu urutan suksesi atau komunitas ketika jenis dominanannya sudah sepenuhnya beradaptasi terhadap keadaan lingkungan.

43.  Komunitas : suatu kelompok yang terjadi secara alami dan terdiri atas berbagai jenis makhluk yang menempati suatu lingkungan bersama-sama dan saling berinteraksi terutama dengan jalan bertukar makanan.

44.  Kortur : suatu garis yang menghubungkan titik-titik yang bernilai sama. Biasanya berdasarkan suatu datum horizontal, misalnya kedalaman laut rata-rata.

45.  Laguna : suatu daerah litoral agak tertutup dengan masukan air tawar yang terbatas, salinitas tinggi dan sirkulasi terbatas; laguna terdapat di belakang bukit pasir, pulau penghalang dan bentuk bentuk penghalang lainnya.

46.  Lahan basah (Wetland) : daerah yang sering terkena banjir atau tertutup air misalnya semak air payau, rawa bakau atau lahan dengan semak-semak tawar.

47.  Lamun : sejenis ilalang laut yang hidup di dasar laut yang berpasir yang tidak begitu dalam dimana sinar matahari masih dapat menembus ke dasar hingga memungkinkan ilalang tersebut berfotosintesa.

48.  Landsat : sebuah satelit NASA (Nasional Aeronautical and Space Administration) yang mengelilingi bumi tanpa awak, yang mengirimkan citra multispektrum (kisaran 0,4 – 1,1 um) dari spektrum elektromagnet ke stasiun penerima di bumi data digital dan/atau citra yang dihasilkan digunakan untuk identifikasi ciri-ciri bumi dan sumberdaya. Data dikumpulkan terpisah untuk panjang gelombang yang tampak dan yang tidak tampak, yang dapat digabungkan untuk interpretasi. Pada kondisi menguntungkan, resolusi tanah dapat mencapai 30 m.

49.  Larva : suatu tahapan dari jalur hidup ikan dan hewan air lainya setelah menetas dari telur menjadi larva yang bentuk sangat berbeda dengan bentuk dewasa dan pada umumnya bergerak pasif mengikuti gerakan air.

50.  Littoral drift : perpindahan pasir dan bahan lain oleh arus litoral (pantai panjang) dengan arah sejajar pantai di sepanjang pantai; biasanya oleh angin.

51.  Migrasi : perpindahan, biasanya dipakai untuk hewan yang pindah dari satu tempat ke tempat lain, misalnya burung, ikan,dsb.

52.  Nutrien : setiap bahan yang diasimilasi oleh organisme hidup untuk pertahanan tubuh atau meningkatkan pertumbuhan.

53.  Oksidasi : dalam pengolahan limbah, oksidasi adalah mengkonsumsi atau menghancurkan limbah organic atau limbah kimia menggunakan mikroba atau oksidan kimia.

54.  Organik : partikel organik kecil yang melayang sebagai detritus biasanya berasal dari vegetatif.

55.  Pelagik : mampu hidup di segala tempat mulai dari permukaan sampai dasar di kolam air laut tidak terbatas pada hidup di dasar.

56.  Pengideraan jauh : dalam perencanaan penggunaan sumberdaya, penginderaan jauh berarti pengumpulan informasi dengan menggunakan foto udara dan citra satelit (lihat “LANDSAT” di atas). Penginderaan jauh harus dilakukan bersama dengan survey lapang.

57.  Pestisida : setiap bahan kimia yang di gunakan untuk membasmi hama tumbuhtumbuhan dan hewan (dan serangga); beberapa insektisida mencemari air, udara atau tanah dan terakumulasi dalam tubuh manusia, tumbuhtumbuhan, hewan dan lingkungan serta menimbulkan pengaruh negatif.

58.  Polikultur : dalam sistem pertanian yaitu gabungan dari sejumlah sistem budidaya yang operational dilakukan secara bersamaan misalnya tambak dan padi.

59.  Pollutan : suatu bahan pencemar yang dalam konsentrasi atau jumlah tetentu menyebabkan perubahan sifat-sifat fisik, kimia dan biologis lingkungan yang tidak menguntungkan termasuk, patogen, logam berat karsinogen, bahan-bahan yang memerlukan oksigen dan bahan-bahan berbahaya lainya,  termasuk tanah yang dikeruk, limbah padat, residu dari alat pembakaran, limbah perkotaan, sampah, amunisi, limbah kimia, bahan biologis, limbah industri, limbah kota, limbah pertanian yang masuk kedalam perairan pantai.

60.  Pulp : bubur kayu untuk pembuatan kertas.

61.  Rantai makanan : urutan pada tingkat/aras trofik bertahap dalam komunitas yang menunjukan terjadinya pemindahan energi melalui proses makan dan dimakan, dari produsen ke herbivor kemudian ke karnivor (konsumen sekunder dan tersier) serta ke pengurai.

62.  Rehabilitasi : tindakan yang disengaja untuk menciptakan kembali atau merubah struktur lingkungan habitat sehingga mengganti kerusakan yang terjadi pada masa lampau.

63.  Relung/nichia/niche : kedudukan, peran, fungsi, suatu jenis makhluk hidup dalam ekosistem komunitasnya.

64.  Restorasi : rehabilitasi suatu sumberdaya lingkungan untuk memulihkan strutur dan proses ekologi.

65.  Run off : bagian dari pencairan, salju meleleh, atau air irigasi yang mengalir dari darat kesungai-sungai atau badan air lainya, termasuk perairan pantai yang menampungnya.

66.  Salinitas : kadar garam yang umumnya dinyatakan dalam per mil atau perseribu atau ppt (part per thousand).

67.  Sea level rise : meningakatnya elevasi permukaan air laut akibat fenomena pemanasan global, karena penyebaran panas air laut dan mencairnya puncak es

68.  Sea Wall : suatu struktur yang dibangun di sepanjang pantai untuk melindungi pantai dan kerusakan lain dari pukulan ombak. Umumnya lebih padat dan mampu bertahan terhadap kekuatan ombak besar dibandingkan dengan sebuah bulk head.

69.  Silvo Fishery : kegiatan perikanan dan kehutanan yang dilakukan secara bersamaan.

70.  Sistem Informasi Geografik (SIG): suatu kumpulan perangkat keras komputer, perangkat lunak, data geografi, dan tenaga kerja yang teratur yang dirancang secara efesien untuk menangkap, menyimpan, memutakhirkan, memanipulasi, menganalisis dan menampilkan seluruh bentuk informasi yang mengacu pada geografi. Operasi spasi tertentu yang komplek dimungkinkan dalam SIG, yang akan sangat sulit, memakan waktu dan tidak praktis tanpa SIG. Data biasanya berasal dari peta dan nilai yang diperoleh dapat dicetak sebagai peta.

71.  Species indicator : satu atau beberapa jenis biota dipilih untuk mewakili kondisi lingkungan tempat jenis-jenis biota itu hidup.

72.  Stakeholder : seseorang (atau entitas) yang mempunyai suatu kepentingan dalam keputusan yang mempengaruhi penggunaan dan konservasi sumberdaya pantai. Tidak terbatas pada mereka yang memiliki kepentingan finansial.

73.  Suksesi : urutan-urutan pergantian peristiwa ekologi yang memperlihatkan perubahan dalam susunan suatu masyarakat kehidupan (umumnya tumbuh-tumbuhan) menuju suatu klimaks yang berlangsung secara sedikit demi sedikit , teratur, dan dapat diduga sebelumnya.

74.  Suksesi primer : suksesi ekologi berawal pada habitat atau substrat yang sebelumnya belum pernah dihuni dan belum mengalami perubahan secara fisik oleh makhluk.

75.  Suksesi sekunder : suksesi tumbuhan yang terjadi setelah adanya gangguan pada suksesi primer atau normal, misalnya sebagai akibat kegiatan manusia pada habitat atau kerusakan pada komunitas sebelumnya.

76.  Sumberdaya alam : sumberdaya lahan dan laut yang relevan dengan potensi penggunaannya, misalnya iklim, air, tanah, lepas pantai, dekat pantai, hutan.

77.  Suspended solids : partikel yang melayang dalam air karena daya gerak hidraulik seperti arus naik atau turbulensi dan suspensi koloid termasuk misalnya endapan atau detritus organik.

78.  Tata Guna Lahan : pengelolaan lahan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Ini meliputi penggunaan lahan di pedesaan, perkotaan, dan penggunaan oleh industri.

79.  Terumbu karang : Karang adalah jenis hewan laut berukuran kecil yang disebut polip, hidupnya menempel pada substrat seperti batu atau dasar yang keras dan berkelompok membentuk suatu koloni. Hewan ini menghasilkan deposit yang berupa kalsium karbonat (CaCO3) yang terakumulasi menjadi terumbu dan bila hewan yang berada di terumbu itu mati, maka terumbu karang tersebut tidak berkembang sehingga menjadi batu karang atau karang mati. Hewan karang hidup dari hewan renik lainnya dan tanaman renik (plankton nabati dan hewan) yang terdapat di sekitarnya.

80.  Tsunami : gelombang laut yang cepat di perairan dangkal, yang berpotensi menimbulkan bencana, disebabkan oleh gempa bumi atau gunung berapi bawah air, gelombang ini dapat muncul sangat tinggi dan menimbulkan bencana membanjiri lahan di pantai.

81.  Turbiditas (kekeruhan) : berkurangnya kejernihan air karena adanya benda-benda yang melayang; juga merupakan suatu ukuran mengenai banyaknya bahan tersuspensi dalam air.

82.  Upland : daerah hulu, ke arah darat dari garis pantai yang hanya sedikit berinteraksi dengan laut.

83.  Zona Ekonomi Eksklusif : zona maritim yang berdekatan dengan atau yang membentang 200 mil laut dari garis pangkal yang digunakan untuk mengukur wilayah laut – kewenangan diberikan secara internasional oleh Konperensi PBB III tentang Hukum Laut, negara pantai mempunyai hak berdaulat untuk eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan sumberdaya alam di zona tersebut.

84.  Zona pesisir (definisi resmi Amerika): perairan pantai (termasuk lahan di dalam dan di bawahnya) dan lahan pantai di dekatnya (termasuk perairan di dalam dan di bawahnya), yang saling mempengaruhi dan letaknya berdekatan dengan garis pantai beberapa propinsi (negara bagian) pantai termasuk pulau-pulau, daerah transisi dan pasang surut, semak-semak payau, lahan basah dan pantai.

85.  Zona Intent : ini memberikan peranan umum dari suatu daerah dan menunjukkan prioritas pada penggunaan yang diizinkan, apabila hal ini dapat dilaksanakan.

86.  Zona pasang surut : zona transisi antara laut dan darat, sering didefinisikan sebagai zona yang terletak antara batas air pasang tinggi rata-rata dan batas air surut rata-rata.


UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


ALIRAN MATERI DAN RANTAI MAKANAN PADA EKOSISTEM MANGROVE

DI PESISIR KABUPATEN KARAWANG JAWA BARAT

Laut merupakan salah satu bagian utama dari komposisi permukaan bumi. Perbandingan daratan dan lautan adalah 30 % bagian dari permukaan bumi adalah daratan, dan 70 % sisanya adalah lautan. Nybaken (1992) membagi secara garis besar daerah perairan laut menjadi 2 (dua) kawasan utama yaitu pelagik dan bentik. Zona pelagic adalah zona permukaan laut yang menerima cahaya matahari (fotik), sedangkan zona bentik adalah zona dasar laut yang kurang atau tidak sama sekali menerima cahaya matahari (afotik). Pada zona pelagik terdapat 3 jenis ekosistem utama yang memiliki produktivitas primer yang tinggi dan umum dijumpai yaitu ekosistem terumbu karang, padang lamun, dan hutan mangrove.

Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain: pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain: penghasil keperluan rumah tangga dan penghasil keperluan industri. Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri, dan sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.

Di kawasan pesisir dan laut Kabupaten Karawang terdapat banyak sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat, di antaranya sumber daya hutan mangrove, sumber daya terumbu karang, sumber daya perikanan laut dan sumber daya perikanan tambak.

Mangrove (bakau, api-api dan sejenisnya) adalah vegetasi khas di daerah pesisir pantai. Jenis-jenis tumbuhan mangrove yang ada di Kabupaten Karawang adalah Rhizopora apicullata, Rhizopora mucronata, Avicennia marina, Sonneratia alba dan Lumnitzera racemoza.

Mangrove dapat tumbuh subur di wilayah pesisir Karawang. Wilayah pesisir Karawang memiliki banyak muara sungai, sehingga memiliki karakteristik sedimen pantai berlumpur-pasir. Perairan yang kaya unsur hara dari aliran muara sungai dan substrat yang berpasir-lumpur ini merupakan kondisi lingkungan yang mendukung untuk tumbuh suburnya vegetasi mangrove.

Hutan mangrove di Kabupaten Karawang tersebar di sembilan kecamatan, yaitu Kecamatan Pakisjaya, Batujaya, Tirtajaya, Cibuaya, Pedes, Cilebar, Tempuran, Cilamaya Kulon dan Cilamaya Wetan. Namun potensi koloni hutan mangrove yang terbesar ada di Kecamatan Tirtajaya, Cibuaya, Cilebar dan Cilamaya. Sedangkan di kecamatan-kecamatan lainnya hanya bersifat setempat dengan jumlah pohon yang tinggal hanya beberapa batang saja. Mengingat mangrove lebih cocok tumbuh di tanah yang berpasir-lumpur, khusus di daerah Pakisjaya yang struktur tanahnya hanya berpasir dan tidak berlumpur, vegetasi didominasi oleh tanaman pakis atau Pinus merkusii, bukan oleh tanaman mangrove.

Berikut peta sebaran hutan mangrove yang ada di Kabupaten Karawang Tahun 2004

peta sebaran mangrove karawang

Sumber: Puslitbang Geologi Kelautan, 2004

ALIRAN MATERI PADA EKOSISTEM MANGROVE

Materi anorganik yang masuk ke lingkungan mangrove akan dimanfaatkan oleh produsen dalam hal ini adalah tumbuhan mangrove untuk kebutuhan fotosintesis. Nutrien tersebut berupa Karbon organik,  Nitrogen,  dan  Posfat dan bentuk nutrien yang lainnya.

Mangrove akan menghasilkan serasah berupa bunga, ranting dan daun mangrove yang jatuh ke perairan sebagian akan tenggelam atau terapung di perairan tersebut dan sebagian lagi akan terbawa oleh arus laut ke daerah lain. Serasah yang dihasilkan oleh pohon-pohon mangrove merupakan landasan penting bagi produksi ikan di muara sungai dan daerah pantai.

Zat organik yang berasal dari penguraian serasah hutan mangrove ikut menentukan kehidupan ikan dan invertebrata di sekitarnya dalam rantai makanan.

RANTAI MAKANAN PADA EKOSISTEM MANGROVE

Mata rantai makanan yang terdapat pada ekosistem mangrove ini tidak terputus. Pada dasarnya rantai makanan pada ekosistem mangrove ini terbagi atas dua jenis yaitu rantai makanan secara langsung dan rantai makanan secara tidak langsung ( rantai detritus ).

1. Rantai Makanan Langsung

Pada rantai makanan langsung yang bertindak sebagai produsen adalah tumbuhan mangrove. Tumbuhan mangrove ini akan menghasilkan serasah yang berbentuk daun, ranting, dan bunga yang jatuh ke perairan. Selanjutnya sebagai konsumen tingkat satu adalah ikan-ikan kecil dan udang yang langsung memakan serasah mangrove yang jatuh tersebut. Untuk konsumen tingkat dua adalah organisme  karnivora yang memakan ikan-ikan kecil dan udang tersebut. Selanjutnya untuk konsumen tingkat tiga terdiri atas ikan-ikan besar maupun burung – burung pemakan ikan. Pada akhirnya konsumen tingkat tiga ini akan mati dan diuraikan oleh detritus sehingga akan menghasilkan senyawa organic yang bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan mangrove tersebut.

2. Rantai Makanan Tidak Langsung / Rantai Detritus

Pada rantai makanan tidak langsung atau rantai detritus ini melibatkan lebih banyak organisme. Bertindak sebagai produsen adalah mangrove yang akan menghasilkan serasah yang berbentuk daun, ranting, dan bunga yang jatuh ke perairan. Selanjutnya serasah ini akan terurai oleh detrivor / pengurai. Detritus  yang mengandung senyawa organic kemudian akan dimakan oleh Crustacea, bacteria, alga, dan mollusca yang bertindak sebagai konsumen tingkat satu. Khusus untuk bacteri dan alga akan dimakan protozoa sebagai konsumen tingkat dua. Protozoa ini kemudian akan dimakan oleh amphipoda sebagai konsumen tingkat tiga. Lalu, baik crustacea ataupun amphipoda ini dimakan oleh ikan kecil (Konsumen Tingkat 4) dan kemudian akan dimakan oleh ikan besar (konsumen 5). Selanjutnya untuk konsumen tingkat enam terdiri atas ikan-ikan besar maupun burung – burung pemakan ikan dan pada akhirnya konsumen tingkat enam ini akan mati dan diuraikan oleh detritus sehingga akan menghasilkan senyawa yang bisa dimanfaatkan oleh tumbuhan mangrove tersebut.

Sumber referensi:

Anonim. 2007. Ekosistem Pesisir Jawa Barat 2. http://uwadadang.blogspot.com/2007/12/ekosistem-pesisir-jawa-barat-2.html

Anonim. 2010. Fauna Mangrove dan Interaksi di Ekosistem Mangrove. http://web.ipb.ac.id/~dedi_s/index.php?option=com_content&task=view&id=18&Itemid=57

Anonim. 2010. Inventarisasi Lahan Kritis Akibat Abrasi di Wilayah Pesisir Kabupaten Karawang. http://www.bplh-karawang.com/files/Lap%20Keg%20Pesisir.pdf

Penulis:

ENJANG HERNANDI HIDAYAT (230210080068)

REZA MUHAMMAD AZHAR (230210080007)

Oleh: hernandhyhidayat | Desember 23, 2009

PERAN MANGROVE DALAM MENGURANGI DAMPAK PERUBAHAN IKLIM GLOBAL


ENJANG HERNANDI HIDAYAT (230210080068)

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN


Tema/topik: Laut dan Perubahan Iklim

PERAN MANGROVE DALAM MENGURANGI DAMPAK

PERUBAHAN IKLIM GLOBAL

Isu perubahan iklim global, akhir-akhir ini merupakan wacana yang sedang menjadi pembicaraan banyak kalangan dari berbagai negara di dunia. Terbukti dengan diselenggarakannya Konferensi Perubahan Iklim 2009 (UN Climate Change Conference 2009) atau lebih dikenal dengan sebutan COP 15 yang merupakan KTT internasional mengenai perubahan iklim. Konferensi ini dibuka di Copenhagen (Denmark) pada hari Senin, 7 Desember 2009 dengan dihadiri oleh sekitar 15-ribu utusan dari 192 negara. Konferensi yang berlangsung hingga tanggal 19 Desember 2009 ini merupakan kesempatan yang baik dalam upaya menjawab tantangan dampak perubahan iklim global.

Problematika mendasar yang dihadapi dalam KTT PBB tentang Perubahan Iklim (UNCCC 2009) di Copenhagen adalah tuntutan pengurangan emisi karbon dunia. Hampir sebagian besar komunitas internasional mendesak agar dunia menghentikan segera pertumbuhan emisi gas rumah kaca, baik yang ditimbulkan oleh negara-negara industri maju (USA, Uni Eropa, dan Jepang) maupun negara-negara ekonomi baru (China dan India). Pengurangan emisi tersebut harus berada di bawah ambang batas yang ditargetkan selama ini. Nilainya sekitar 25% hingga 40%. Bagi banyak aktivis lingkungan, angka pengurangan itu malah secara radikal harus ditingkatkan menjadi 80% hingga 95% pada tahun 2050 agar dampak perubahan iklim tidak sampai menaikkan suhu global sampai dua derajat Celcius pada tahun tersebut. Ironisnya, dalam hal ini masih terus terjadi tarik menarik kepentingan antar negara, utamanya antara negara industri maju dan negara-negara ekonomi baru.

Apa dan bagaimanakah fenomena perubahan iklim itu….?????

Secara umum iklim terbentuk sebagai hasil dari interaksi proses-proses fisik dan kimiafisik berbagai parameternya, seperti suhu, kelembaban, angin, dan pola curah hujan yang terjadi pada suatu tempat di muka bumi. Untuk mengetahui kondisi iklim suatu tempat, diperlukan nilai rata-rata parameter tersebut selama kurang lebih 30 tahun. Iklim muncul akibat dari pemerataan energi bumi yang tidak tetap dengan adanya perputaran/revolusi bumi mengelilingi matahari selama kurang lebih 365 hari serta rotasi bumi selama 24 jam. Hal tersebut menyebabkan radiasi matahari yang diterima berubah tergantung lokasi dan posisi geografis suatu daerah.  Daerah yang berada di posisi sekitar 23,5 Lintang Utara – 23,5 Lintang Selatan, merupakan daerah tropis yang konsentrasi energi suryanya surplus dari radiasi matahari yang diterima setiap tahunnya.

Secara alamiah sinar matahari yang masuk ke bumi, sebagian akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa. Sebagian sinar matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang menyelimuti bumi yang disebut gas rumah kaca, sehingga sinar tersebut terperangkap dalam bumi. Peristiwa ini dikenal dengan efek rumah kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana panas yang masuk akan terperangkap di dalam rumah kaca dan tidak dapat menembus ke luar kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.

Gas rumah kaca (GRK) adalah gas yang pada saat terakumulasi di atmosfer akan menciptakan selubung yang kemudian menimbulkan gangguan pada proses pelepasan panas dari bumi ke luar lapisan atmosfer. Gas yang memungkinkan untuk hal tersebut terjadi adalah berupa karbondioksida (CO2), metana (CH4), nitrogen oksida (N2O), hidrofluorokarbon (HFCs), perfluorokarbon (PFCs) dan Sulphur hexafluoride (SF6). GRK yang berada di atmosfer tersebut dihasilkan dari berbagai kegiatan manusia terutama yang berhubungan dengan pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas, dan batubara) seperti pada pembangkit tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, dan lain sebagainya. Selain itu GRK juga dihasilkan dari pembakaran dan penggundulan hutan serta aktivitas pertanian dan peternakan. GRK yang dihasilkan dari kegiatan tersebut, seperti karbondioksida, metana, dan nitroksida, bisa menyebabkan meningkatnya konsentrasi GRK di atmosfer.

Berubahnya komposisi GRK di atmosfer, yaitu meningkatnya konsentrasi GRK secara global akibat kegiatan manusia menyebabkan sinar matahari yang dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa, sebagian besar terperangkap di dalam bumi akibat terhambat oleh GRK tadi. Meningkatnya jumlah emisi GRK di atmosfer pada akhirnya menyebabkan meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi, yang kemudian dikenal dengan Pemanasan Global. Karena suhu adalah salah satu parameter dari iklim dan berpengaruh pada iklim bumi, maka terjadilah perubahan iklim secara global.

Pemanasan global dan perubahan iklim menyebabkan terjadinya kenaikan suhu bumi, mencairnya es di kutub, kenaikan paras muka air laut dan gelombang pasang, bergesernya garis pantai, musim kemarau yang berkepanjangan dan periode musim hujan yang semakin singkat namun semakin tinggi intensitasnya, Hal-hal ini kemudian akan menyebabkan tenggelamnya beberapa pulau dan berkurangnya luas daratan, pengungsian besar-besaran, gagal panen, krisis pangan, banjir, wabah penyakit, dan lain-lainnya

Apa, mengapa dan bagaimana Mangrove bisa berperan sebagai pengurang dampak perubahan iklim……?????

Apabila dilihat dari struktur katanya, mangrove berasal dari dua kata yaitu  mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Secara umum mangrove dapat didefinisikan sebagai vegetasi tanaman yang hidup di daerah pesisir diantara garis pasang surut (pantai, laguna, muara sungai) dengan  komunitas tumbuhan yang hidup di ekosistem mangrove tersebut adalah tumbuhan yang bersifat halophyte, atau tumbuhan yang mempunyai toleransi tinggi terhadap tingkat keasinan (salinity) air laut, contohnya adalah jenis pohon Avicennia, Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Lumnitzera, Excoecaria, Xylocarpus, Egiceras, Scyphyphora dan Nypa.

Hutan mangrove yang merupakan ekosistem peralihan antara darat dan laut, sudah sejak lama diketahui mempunyai fungsi ganda dan merupakan mata rantai yang sangat penting dalam memelihara keseimbangan siklus biologi di suatu perairan. Hutan mangrove juga memberikan manfaat pada masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung yaitu sebagai sumber penghasil kayu bakar dan arang, bahan bangunan, bahan baku pulp untuk pembuatan rayon, sebagai tanin untuk pemanfaatan kulit, bahan pembuat obat-obatan, dan sebagainya. Secara tidak langsung hutan mangrove mempunyai fungsi fisik yaitu menjaga keseimbangan ekosistem perairan pantai, melindungi pantai dan tebing sungai dari pengikisan atau erosi, menahan dan mengendapkan lumpur serta menyaring bahan tercemar.

Selain itu, bersama dengan ekosistem pesisir lainnya, yaitu padang lamun dan terumbu karang, ekosistem mangrove memegang peranan yang sangat vital dalam mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan karbon/emisi CO2 yang merupakan gas rumah kaca. Proses fotosentesis mengubah karbon anorganik (C02) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Pada sebagian besar ekosistem, bahan ini membusuk dan melepaskan karbon kembali ke atmosfer sebagai (C02). Akan tetapi hutan mangrove justru mengandung sejumlah besar bahan organik yang tidak membusuk. Karena itu, hutan bakau lebih berfungsi sebagai penyerap karbon dibandingkan dengan sumber karbon.

Manfaat mangrove yang begitu besar, telah berperan serta dalam menunjang kehidupan manusia dan lingkungannya. Namun demikian, manfaat yang sedemikian besar tersebut seringkali terlupakan, bahkan menjadi terancam karena pemanfaatan mangrove yang tidak ramah lingkungan.

Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai 75% dari total mangrove di Asia Tenggara, atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalah memiliki keragaman jenis yang tertinggi di dunia. Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayah pesisir Sumatera, Kalimantan dan Papua. Luas penyebaran mangrove terus mengalami penurunan. Berdasarkan data Direktorat Jendral Rehabilitas Lahan dan Perhutanan Sosial (2001) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 1999 diperkirakan mencapai 8.60 juta hektar akan tetapi sekitar 5.30 juta hektar dalam keadaan rusak. Sedangkan data FAO (2007) luas hutan Mangrove di Indonesia pada tahun 2005 hanya mencapai 3,062,300 ha atau 19% dari luas hutan Mangrove di dunia dan yang terbesar di dunia melebihi Australia (10%) dan Brazil (7%).

Di Asia sendiri luasan hutan mangrove indonesia berjumlah sekitar 49% dari luas total hutan mangrove di Asia yang dikuti oleh Malaysia (10% ) dan Mnyanmar (9%). Akan tetapi diperkirakan luas hutan mangrove diindonesia telah berkurang sekitar 120.000 ha dari tahun 1980 sampai 2005 karena alasan perubahan penggunaan lahan menjadi lahan pertanian (FAO, 2007).

Data Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) RI (2008) berdasarkan Direktoral Jenderal Rehabilitasi lahan dan Perhutanan Sosial (Ditjen RLPS), Dephut (2000) luas potensial hutan mangrove Indonesia adalah 9.204.840.32 ha dengan luasan yang berkondisi baik 2.548.209,42 ha, kondisi rusak sedang 4.510.456,61 ha dan kondisi rusak 2.146.174,29 ha. Berdasarkan data tahun 2006 pada 15 provinsi yang bersumber dari BPDAS, Ditjen RLPS, Dephut luas hutan mangrove mencapai 4.390.756,46 ha.

Apapun bentuk datanya, yang jelas hutan mangrove kita telah banyak yang berkurang. Konversi lahan yang dilakukan oleh manusia terhadap areal hutan mangrove sebagai tambak, areal pertanian dan pemukiman menyebabkan luas lahan hutan mangrove terus berkurang. Selain itu pemanfaatan hutan mangrove yang tidak bertanggung jawab sebagai bahan bangunan, kayu bakar dan juga arang memberi kontribusi yang tidak sedikit terhadap kerusakan hutan mangrove.

Jadi…….

Selamatkan Ekosistem Hutan Mangrove…!!!!!

Demi mengurangi dampak dari perubahan iklim global,

demi masa depan planet bumi,

demi masa depan anak cucu manusia, dan

demi bumi yang lebih bersahabat bagi manusia.

JALESVEVA JAYAMAHE

DI LAUT KITA JAYA, DI DARAT KITA KAYA

Sumber acuan:

Materi kuliah Hasil Laut Komersial. Pemanfaatan Hutan Mangrove dalam Hasil Laut Komersial Yang Berkelanjutan. Oleh Donny Juliandri Prihadi, S.Pi, M.Sc, Cpm

Asep Firman.2009. MANGROVE dan PERUBAHAN IKLIM. http:// fpik.unpad.ac.id/archives/112

http://mbojo.wordpress.com/2009/01/01/hutan-mangrove-dan-luasannya-di-indonesia/

http://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKUNGAN KEHUTANAN/INFO_VI02/VII_VI02.htm

Oleh: hernandhyhidayat | Desember 15, 2009

SEL


Dengan ucapan “Bismillahirohmanirrohim” saya awali penulisan blog ini. Blog yang saya buat ini, isinya merupakan suatu tulisan dari ilmu yang saya dapatkan dari berbagai sumber. Tulisan pertama saya di blog ini berjudul “SEL”. Mengapa tulisan pertama saya berjudul SEL..?? jawabannya karena saya yakin dan paham bahwa segala sesuatu yang hidup di muka bumi ini berawal dari sesuatu yang sangat kecil yang merupakan unit struktural dan fungsional bagi semua makhluk hidup. Dengan ditulisnya tentang SEL ini, semoga memberikan motivasi bagi saya untuk menulis  dan berbagi ilmu kepada semuanya demi memberikan perubahan pada dunia.amin…

Pengertian Sel

SEL adalah unit fungsional dan struktural dalam sistem kehidupan. Sebagai unit fungsional, di dalam sel berlangsung semua reaksi kimia dan berbagai proses kehidupan. Sebagai unit struktural, sel merupakan bagian dari komponen penyusun jaringan makhluk hidup. Secara structural, para ahli biologi membedakan sel menjadi dua kelompok utama, yaitusel prokariotik dan sel eukariotik. Sel prokaritik adalah sel yang tidak memiliki membrane inti, artinya materi inti berupa DNA tidak diseliputi oleh suatu membrane. Sel eukariotik adalah sel yang memiliki membrane inti, umumnya memiliki organel-organel sel.

Sejarah Perkembangan Teori Sel

Anton van Leeuwenhoek

Anton van Leeuwenhoek (1632-1723), seorang ahli mikroskop berkebangsaan Belanda merupakan orang pertama yang membuat dan menggunakan mikroskop untuk mempelajari berbagai objek biologi. Anton van Leeuwenhoek melakukan banyak pengamatan terhadap benda-benda dan jasad-jasad renik dan menunjukkan pertama kali pada dunia ada “kehidupan di dunia lain” yang belum pernah dilihat oleh manusia. Saat itu, ia tidak menyebutnya sebagai sel, melainkan hewan-hewan kecil. Karyanya menjadi dasar bagi cabang biologi yang penting saat ini yaitu  mikrobiologi.

robert hooke

Istilah sel pertama kali diperkenalkan oleh seorang ilmuwan Inggris bernama Robert Hooke (1635-1703), yang telah meneliti irisan tipis gabus melalui mikroskop yang dirancangnya sendiri. Kata sel berasal dari kata Latin cellulae yang berarti ‘kamar-kamar kecil’. Penggunaan istilah ini mulai pada tahun 1665, yaitu pada saat ia mempublikasikan bukunya yang berjudul Micrographia.

Perkembangan mikroskop selama hampir 200 tahun berikutnya telah memberikan kesempatan bagi para ahli untuk meneliti susunan tubuh makhluk hidup. Serangkaian penelitian telah dilakukan oleh 2 orang ilmuwan dari Jerman yaitu Matthias Jakob Schleiden (ahli botani, 1804-1881) dan Theodor Schwann (ahli zoologi, 1810-1882). Mereka menyimpulkan bahwa setiap mahluk hidup tersusun atas sel.

Selanjutnya pada tahun 1885 seorang ilmuwan Jerman, Rudolf Virchow, mengamati bahwa sel dapat membelah diri dan membentuk sel-sel baru. Setelah istilah sel dikenal, dikemukakan pula bahwa bagian penting dari sel adalah bagian dalam dari dinding sel (isi sel). Isi sel terdiri atas material hidup yang dikenal dengan istilah protoplasma yang berarti zat pertama yang dibentuk. Istilah protoplasma pertama kali diperkenalkan pada tahun 1839 oleh J. Purkinye, seorang ahli fisiologi.

Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan

sel hewan

Sel hewan tidak memiliki dinding sel. Protoplasmanya hanya dilindungi oleh membran tipis yang tidak kuat. Ada beberapa sel hewan khususnya hewan bersel satu, selnya terlindungi oleh cangkok yang kuat dan keras. Cangkok tersebut umumnya tersusun atas zat kersik dan pelikel, dijumpai misalnya pada Euglena dan Radiolaria.

Secara umum sel hewan tidak memiliki vakuola. Jika ada vakuola, ukurannya sangat kecil. Pada beberapa jenis hewan bersel satu ditemukan adanya vakuola, misalnya pada Amoeba dan Paramaecium. Terdapat dua macam vakuola, yaitu vakuola kontraktil (alat osmoregulasi) dan vakuola non kontraktil (penyimpan makanan). Bagian paling besar pada sel hewan adalah nukleus.

Dalam satu sel hewan terdapat dua sentriol. Kedua sentriol ini terdapat dalam satu tempat yang disebut sentrosom. Saat pembelahan sel, tiap sentriol memisahkan diri menuju kutub yang berlawanan dan memancarkan benang-benang gelendong pembelahan yang akan menjerat kromosom.

sel tumbuhan

Sel Tumbuhan, bagian terluar dari sel tumbuhan adalah dinding sel. Dinding sel berfungsi sebagai pelindung dan penunjang. Dinding yang terbentuk pada waktu sel membelah disebut dinding primer dan setelah mengalami penebalan, berubah menjadi dinding skunder. Dinding primer sel merupakan selaput tipis yang tersusun atas serat-serat selulosa. Serat ini amat kuat daya regangnya. Dinding sel yang kaku tersusun atas polisakarida: hemiselulosa dan pektin.

Dinding sel skunder dimiliki oleh sel-sel dewasa. Dinding skunder memiliki kandungan selulosa lebih banyak berkisar 41-45%, juga hemiselulosa dan lignin.

Sel tumbuhan memiliki vakuola yang lebih besar (dibanding sel hewan). Vakuola sel tumbuhan bersifat menetap. Sel-sel tumbuhan yang memiliki vakuola paling besar adalah sel-sel parenkim dan kolenkim.

Selain itu sel tumbuhan memiliki organel yang tidak terdapat di dalam sel hewan, fungi, maupun prokariota seperti bakteri dan ganggang hijau-biru, yaitu plastida.

Bentuk plastida bisa bulat, oval maupun cakram. Plastida dibedakan menjadi leukoplas, kromoplas dan kloroplas, dimana ketiganya merupakan perkembangan dari proplastida (plastida muda).

Tabel Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan

SEL HEWAN

SEL TUMBUHAN

Sel hewan lebih kecil daripada sel tumbuhan Sel tumbuhan lebih besar daripada sel hewan
Mempunyai bentuk yang tidak tetap Mempunyai bentuk yang tetap
Tidak mempunyai dinding sel Mempunyai dinding sel
Tidak mempunyai klorofil Mempunyai klorofil
Tidak mempunyai vakuola, walaupun terkadang sel beberapa hewan uniseluler memiliki vakuola (tapi tidak sebesar yang dimiliki tumbuhan). Mempunyai vakuola atau rongga sel yang besar
Menyimpan makanan dalam bentuk biji (granul) glikogen. Menyimpan tenaga dalam bentuk biji (granul) kanji.
Mempunyai lisosom Tidak mempunyai lisosom
Mempunyai sentrosom Tidak mempunyai sentrosom
Tidak mempunyai plastida Mempunyai plastida
Oleh: hernandhyhidayat | Desember 12, 2009

Hello world!


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.